Setelah mengkritisi Edhy Prabowo, Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti kali ini menyoroti ucapan Ridwan Kamil. Bahkan dengan tegas, Susi Pudjiastuti dengan tegas mengaku tidak setuju dengan usulan yang dilayangkan Ridwal Kamil. Melalui laman media sosialnya, Susi Pudjiastuti pun mengurai sikap apa yang harusnya dilakukan Ridwan Kamil sebagai pejabat publik.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menawarkan Pantai Selatan Jawa Barat untuk dijadikan sebagai lokasi budidaya lobster oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan RI. Sebelumnya diketahui, kementerian ini tengah memetakan dan mencari lokasi budidaya lobster di Tanah Air. Hal itu terkait dengan pemerintah berupaya agar benih lobster dapat dibudidayakan di dalam negeri. Menteri Kelautan dan Perikanan RI Edhy Prabowo mengaku banyak daerah yang berpotensi untuk mengembangkan benur tersebut di Indonesia.

Untuk melakukan benur, katanya, perlu ada kajian di tempat tempat tertentu. Edhy Prabowo mengatakan daerah yang telah melakukan pembesaran benih lobster di antaranya NTB, Sulawesi Tenggara, dan Lampung. "Kalau boleh saya mengusulkan, Pantai Selatan Jawa Barat. Bisa Pangandaran, bisa Pelabuhan Ratu, bisa Garut Selatan. Saya kalau itu ada, kami tawarkan kepada Menteri di situ saja," kata gubernur yang akrab disapa Emil ini di Gasibu, Senin (23/12).

Ridwan Kamil mengatakan contohnya di Pangandaran, kawasan ini cocok untuk budidaya lobster. Lobster, katanya, membutuhkan tempat yang nyaman untuk tumbuh besar. "Pangandaran, kan lobster itu butuh suhu pas, butuh ekosistem yang nyaman. Nyamannya di pangandaran yang garis pantainya masih luas," kata Ridwan Kamil.

Usulan yang diajukan Ridwan Kamil itu lantas ditanggapi oleh Susi Pudjiastuti. Melalui laman Twitter nya yang sudah terverifikasi, Susi Pudjiastuti memberitahukan sikap apa yang harus dilakukan Ridwan Kmail sebagai pimpinan daerah. Alih alih mengumbar, Susi Pudjiastuti meminta kepada Ridwan Kamil untuk belajar mendalami suatu kebijakan publik terlebih dahulu sebelum mengatakannya ke khalayak.

Baca:  Belasan Tahun Tinggal di Filipina, Said Kembali ke Indonesia Bahas Kontribusi Diaspora untuk Bangsa

Saran yang diurai Susi Pudjiastuti itu lantas ditegaskan kembali dengan sebuah jawaban. Yakni apakah Susi Pudjiastuti setuju dengan usulan Ridwan Kamil atau tidak. Dengan singkat, Susi Pudjiastuti mengaku bahwa ia tidak setuju dengan usulan Ridwan Kamil tersebut.

"Bu Susi setuju??" tanya akun @BANGJAR14680450 "Tidak," jawab Susi Pudjiastuti tegas. Mengurai jawabannya, Susi Pudjiastuti pun menjelaskan fokus apa yang harusnya dilakukan oleh pemerintah.

Alih alih melakukan tindakan yang ditawarkan Ridwan Kamil, Susi Pudjistuti justru meminta kepada pemerintah untuk menjaga keberlanjutan sumber daya alam. "mungkin menurut ibu, apa sih sekarang yang di utamakan pangandaran menurutku pangandaran lagu fokus sama pariwisatanya dan mungkin daerah lain yang bisa yang tempatnya cocok untuk lobster itu dan kebijakan dalam budidaya penuh fokus kesitu," tulis akun @HendraEryanto. "Menjaga Keberlanjutan Sumber Daya Alam yaitu Kelautan dan Perikanannya agar tetap SELALU ADA dan BANYAK…. Produktif lestari. Cukup untuk dimakan dan dikomersialkan. Bertahun tahun dinikmati generasi ke generasi. ADA dan BANYAK," balas Susi Pudjiastuti.

Fokus perihal lobster yang terus disinggung Susi Pudjiastuti itu rupanya memicu rasa penasaran dari warganet. Yakni mengapa Susi Pudjiastuti sangat perhatian dengan isu lobster ketimbang biota lain. Menjawab rasa penasaran warganet, Susi Pudjiastuti pun memberikan jawabannya dengan lugas.

Mantan Menteri KKP itu menjelaskan bahwa saat ini, lobster sedang berada dalam ancaman kepunahan. Karenanya, sebagai pihak yang mengerti dan peduli tentang kepunahan lobster, Susi Pudjiastui merasa perlu vokal menyuarakan pendapatnya. "ibu susi saya mau nanya dong, dari sekian banyak budidaya laut, kenapa lobster ini menjadi ketertarikan ibu sehingga menjadi issue di belakangan hari ini? kenapa kita tidak coba mengembangkan budidaya di jenis ikan laut lainnya? mohon pencerahannya buat saya bu. salam ibu," tanya akun @calongurubesar.

Baca:  Upacara Bendera HUT ke-74 RI di Kantor DPP Gerindra Tertutup buat Media

"Krn Lobster dlm ancaman kepunahan, wacana yg tidak mau tahu &perduli. Lobster itu species yg belum bisa kita kawinkan & biakkan di penangkaran. Bibit untk budidaya pembesaran semua diambil dr alam. Cara Pengambilan bibit ini massal &mudah; akan cepat menghabiskan stok alam," balas Susi Pudjiastuti. Sebelumnya muncul pro kontra antara Edhy Prabowo dan mantan menteri KKP, . Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan terlihat menanggapi rencana kebijakan pemerintah yang akan membuka keran benih lobster.

Tanggapan Susi dibagikannya melalui akun Twitter pada Selasa (10/12/2019) malam, tepatnya pukul 19.16 WIB. Susi menyebutkan, lobster sangat bernilai ekonomi tinggi sehingga kelestariannya perlu dijaga. Terlebih lagi, Indonesia telah dianugerahi laut yang luas dan kaya sumber daya.

Dia pun menyebutkan, hendaknya manusia tidak boleh tamak alias serakah karena tergiur dengan harganya yang mahal itu, utamanya harga benih lobster yang melonjak drastis di pasar luar negeri. "Lobster yang bernilai ekonomi tinggi tidak boleh punah, hanya karena ketamakan kita untuk menjual bibitnya; dengan harga seperseratusnya pun tidak. Astagfirullah… karunia Tuhan tidak boleh kita kufur akan nikmat dari Nya," tulis dikutip Kompas.com, Rabu (11/12/2019). Tak hanya menulis kata kata di atas, dia pun membagikan video yang memperlihatkan keseruannya menikmati dua ekor udang lobster besar ditemani semangkuk nasi putih dan lauk pauk lainnya.

Dalam video yang diunggah, Susi mengatakan, harga lobster yang dia makan sudah bernilai jual tinggi. Lobster yang dia makan beratnya antara 400 sampai 500 gram dengan rerata harga Rp 600.000 sampai Rp 800.000. Dia pun membandingkan dengan harga bibit yang dijual ke Vietnam dengan harga lebih murah.

Harga satu bibit hanya berkisar Rp 100.000 sampai Rp 130.000. Terlebih lagi bila yang dijual adalah lobster mutiara. "Bibitnya diambil dan dijual hanya dengan Rp 30.000 saja. Berapa rugi kita? Apalagi kalau lobsternya mutiara jenisnya. Di mana satu kilo mutiara bisa sampai Rp 4 5 juta," ucap Susi. Padahal, kalau dibesarkan, harganya lebih mahal dari itu.

Baca:  Prajurit TNI Yonif 411 Latih Pelajar SMP di Perbatasan Indonesia-Papua Nugini Upacara Bendera

"Satu ekor 400 gram itu sudah berapa harganya? Rp 1 juta. Kita jual ke Vietnam hanya dengan harga Rp 100.000 atau Rp 130.000. Nelayan tidak boleh bodoh dan kita akan dirugikan bila itu dibiarkan," imbuhnya.

Tags: , , , , , ,
Avatar
Lakukan hal-hal yang kau pikir tidak bisa kau lakukan. Yakinlah kau bisa dan kau sudah separuh jalan menuju ke sana. Lakukan yang terbaik, sehingga kita tak akan menyalahkan diri sendiri atas segalanya.

Related Article

0 Comments

Leave a Comment