Ada pemandangan unik saat agenda wawancara dan uji publik 20 orang calon pimpinan KPK. Salah satu kandidat marah marah saat disinggung soal sifatnya yang temperamental oleh panitia seleksi (pansel). Roby Arya Brata geram saat mendapat pertanyaan dari anggota Pansel Diani Sadia Wati. Mulanya, Diani menanyakan kepada Sekretariat Kabinet sebagai Asisten Deputi Bidang Ekonomi Makro, Penanaman Modal, dan Badan Usaha pada Kedeputian Bidang Perekonomian itu terkait kompetensi manajerial untuk meningkatkan hubungan antara pimpinan komisi antirasuah dengan pegawainya.

"Bapak kan tahu, sebagai bagian dari kompetensi manajerial dilakukan, bagaimana bapak melakukan perubahan perubahan terkait meningkatkan hubungan antara pimpinan dengan pegawai KPK?" tanya Diani. Roby pun menjawab, intensitas komunikasi antara pimpinan dan pegawai KPK akan sering dilakukan agar tercipta kesolidan bersama. "Ya itu kemampuan komunikasi yang diseringkan. Saya akan berkeliling kerjanya, walking arounds. Saya akan buat sistem supaya hubungan makin solid antara pimpinan dan pegawai," jawab Roby Arya.

Saat berada di ujung waktu sesi wawancara, Diani lalu mengkonfirmasi terkait informasi adanya kepribadian Roby yang dinilai memiliki sifat tempramental. "Ada informasi bapak tempramental, bagaimana bapak mengelola ini kalau dengan sikap yang tidak serasi," tanya Diani. Roby pun terlihat geram mendapat pertanyaan itu. Ia menjawab pertanyaan itu dengan nada tinggi.

"Mungkin saya malah sabar ya, dapat informasi dari mana itu (red, tempramental)? Silakan tanya saja ke staf saya. Dulu isunya saya dianggap orang istana, sekarang saya isunya sebagai orang HTI (red, Hizbut Tahrir Indonesia), waduh," jawab Roby. Perdebatan itu pun berakhir dengan mediasi dari Ketua Pansel, Yenti Garnasih. Ia meminta Roby untuk tenang dan sabar. "Cukup, cukup. Sekarang sabar ya," ucap Yenti menutup sesi wawancara Roby dan Diani. Tidak hanya Roby yang membetot perhatian karena sikap tempramentalnya, ada lagi calon pimpinan KPK bernama Sri Handayani yang dikonfirmasi oleh Anggota Pansel KPK Marcus Priyo Gunarto mengenai kepemilikan rumah mewah di Solo, Jawa Tengah.

Baca:  Jokowi Beli Mobil-mobilan buat Jan Ethes di Malioboro Mall

"Disini di dilaporkan punya rumah mewah di lor in Residence, Jalan Adi Sucipto, Solo. Bisa dijelaskan seberapa mewah rumah ibu dan bagaimana mendapatkannya?" tanya Marcus Priyo Gunarto. Sri kemudian menjelaskan terkait kepemilikan rumah mewah itu. Menurutnya, mewah atau tidak adalah suatu hal yang relatif sehingga ia tak merinci definisi mewah dari kondisi rumah yang ia miliki. "Rumah yang saya dapat itu adalah kredit, namun perlu diketahui bapak, bahwa saya sebelum saya masuk polisi itu saya atlet nasional dan pemegang rekor 400 gawang," jawab Sri.

Capim KPK dari institusi kepolisian ini menjelaskan bahwa semenjak Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia sudah menjadi atlet nasional dan memegang sejumlah rekor. Dari situ, ia mengumpulkan pundi pundi uang dari bonus sebagai atlet. "Bicara soal atlet nasional tentu disitu ada bonus yang saya dapat. Mulai dari SMP sampai dengan polisi saya masih atlet nasional," ujarnya. "Bonus bonus itu yang saya dapat, kemudian saya tidak hobby menabung, saya jarang menabung dan sekarang pun mungkin dilihat tabungan saya dengan jabatan jabatan yang operasional lengkap jabatan saya," tambah Sri.

Ia juga menjelaskan bahwa memiliki pengalaman malang melintang di kepolisian. Namun, tak banyak uang yang bisa tabungkan. "Boleh dilihat ke PPATK. Tabungan tabungan itu memang seperti itu," jelasnya. Bonus bonus itu, lanjut Sri, ia kumpulkan untuk membeli tanah tanah di beberapa lokasi. Uang bonus itu pula yang saat ini dibelikan rumah di Lor in Residence, Solo. "Itu saya kumpulkan dan saya kadang kadang ada jual beli tanah yang murah karena duit selalu siap saya beli sehingga itu lah harta kekayaan saya itu yang saya dapat dari tabungan tabungan semenjak saya jadi atlit sampai jadi polisi," jelas Sri.

Baca:  BPN Pertanyakan Jokowi yang Tak Cuti Total saat Kampanye

"Mungkin tabungan saya ada itu semenjak sudah gaji masuk ATM. Sebelum itu tidak ada tabungan, bapak bisa mengecek itu," tambahnya. "Baik artinya itu sesuatu wajar ya karena itu ibu ada prestasi atlet, dan pernah dapat hadiah yang bisa digunakan, klarifikasi saja, ada masuk gitu," tutup Marcus. Direktur Jaringan dan Kerja Sama Antar Komisi dan Instansi KPK Sujanarko, dicecar Pansel KPK mengenai isu intoleransi dan radikalisme di KPK. Menyikapi ini, Sujanarko menegaskan tidak pernah ada intoleransi dan radikalisme di lembaga antirasuah.

"Saya sebagai pegawai KPK 15 tahun di sana radikalisme tidak ada tapi kekhawatiran tetap jadi concern," tegas Sujanarko. Dia mencontoh tidak adanya radikalisme dengan betapa semangatnya para pegawai KPK setiap menjalani upacara bendera. "Pegawai KPK kalau diundang upacara semangat, upacara jam 7 datang jam 6, semangat upacara, hormat bendera," imbuhnya. Sujanarko berjanji bila dirinya terpilih menjadi pimpinan KPK, dia akan menggandeng dua ormas Islam terbesar untuk mengelola Masjid di KPK. "Masjid KPK dibangun menggunakan APBN, sehingga KPK bertanggung jawab dengan tata kelola masjid. Saya nanti ingin agar pengelolaan Masjid kerja sama dengan NU dan Muhamadiyah di Masjid KPK," tuturnya.

Untuk diketahui, uji publik dan wawancara diikuti 20 calon ‎pimpinan KPK. Dalam dua hari terakhir, Pansel KPK melakukan wawancara pada 14 orang secara bergantian dengan durasi satu jam. Tes uji publik dan ‎wawancara ini, digelar selama tiga hari berturut turut mulai 27 29 Agustus 2019. Panelis dalam uji publik itu yakni Yenti Garnasih, Indriyanto Senoadji, Harkristuti Harkrisnowo. Ada juga Marcus Priyo Gunarto, DIani Sadia, Mualimin Abdi, Hendardi, Hamdi Moeloek serta Al Araf. Pansel turut mengundang dua panelis ialah sosiolog hukum Meutia Ghani dan pengacara Luhut Pangaribuan.

Baca:  Dua Menteri Hadiri Pagelaran Wayang Kulit Perayaan Kemenangan Jokowi-Maruf

Ketua Pansel Calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Yenti Garnasih mengatakan, sebanyak 20 nama Capim KPK akan disaring menjadi 10 nama. Nantinya, 10 nama itu akan diserahkan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Senin (2/9) mendatang. Yenti menyebut, mulai sore dan malam hari ini Pansel akan meneruskan rapat tentang hasil tes kesehatan dari RSPAD, kemudian Jumat dan seterusnya akan dilakukan rapat tertutup untuk menentukan 10 nama capim terpilih.

Hal itu disampaikan Yanti usai Pansel merampungkan sesi wawancara dan uji publik terhadap 20 orang Capim KPK. "Hari senin kami akan rapat pada putusan untuk menentukan 10 calon pimpinan yang pada senin jam 3 (sore), rencananya Insyaallah kami diterima presiden untuk menyerahkan 10 nama tersebut," ucap Yenti. Yenti menambahkan, nantinya 10 nama capim yang terpilih akan diserahkan kepada Presiden Jokowi. Namun, untuk pengumumannya, ia menyebut pihaknya tidak memiliki kewenangan untuk itu.

Tags: , , , ,
Avatar
Lakukan hal-hal yang kau pikir tidak bisa kau lakukan. Yakinlah kau bisa dan kau sudah separuh jalan menuju ke sana. Lakukan yang terbaik, sehingga kita tak akan menyalahkan diri sendiri atas segalanya.

Related Article

0 Comments

Leave a Comment